Our Feeds
Tampilkan postingan dengan label BINAAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BINAAN. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Maret 2018

CSRRUIISEIPAKNING

Kelompok Tani Tunas Makmur Pakning Hasilkan 9 Produk Olahan Nanas

Kelompok Tani Tunas Makmur, Kelurahan Sungai Pakning, telah menghasilkan sembilan produk olahan Nanas. Komoditi ini sudah dipasarkan tidak hanya di Sungai Pakning, namun juga sudah masuk ke kabupaten/kota di Provinsi Riau.
“Untuk pemasaran produk, selain Sungai Pakning sudah masuk ke wilayah, Dumai, Siak, Pekanbaru melalui media online, dan kita terus berusaha memperkenalkan produk-produk kita ini melalui event event di pemerintahan seperti MTQ dan sebagainya, dan produk kita ini akan kita jadikan sebagai oleh-oleh khas yang ada di Sungai Pakning,” papar Ketua Kelompok Tani, Syamsul, Kamis 22 Maret 2018.
Dikatakan Syamsul kesembilan produk olahan nanas tersebut adalah, keripik tepung nenas, manisan nenas, keripik nenas, keripik keju, ketela unggu, kerupuk pedas, keripik pisang gambut, dodol nenas, wajik rasa nanas.
“Dengan beranggotakan 30 orang, saat ini kami mengolah lahan kebun nanas dengan luas sekitar 6,5 hektar,” jelas Syamsul sembari mengatakan kelompoknya merupakan Mitra Binaan PT Pertamina (Persero)  RU II Production Sungai Pakning.
Humas Pertamina, Rahmad Hidayat menuturkan melalui program CSR pihaknya telah memberikan bantuan kepada kelompok tani berupa mesin vacum prayer (alat pengorengan keripik nenas), spiner oil (alat pengering minyak), kemasan, pembinaan & pelatihan bagi kelompok tani. 
Lebih lanjut Rahmad Hidayat, menegaskan bantuan CRS yang diberikan sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas kelompok tani dalam mengolah panganan yang menjadi ciri khas Sungai Pakning. “Jika produktivitas meningkat, tentu akan mendongkrak pendapatan petani dan kelompok tani,” tandasnya.
Lurah Sungai Pakning, Risky Afriandy menuturkan, produk kelompok Tani Tunas Makmur sudah mendapatkan izin dari Dinas Kesehatan Bengkalis berupa P-IRT no . 2141408010016-22.
“Kita menyambut baik program bantuan CSR dari Pertamina RU II Sungai Pakning, program itu betul-betul dapat membangkitkan perekonomian masyarkat tempatan, jadi masyarakat kita memang betul-betul di berdayakan sehingga masyarakat kita punya semangat untuk mandiri,” jelasnya.
Dikatakan Risky, kreatifitas Kelompok Tani Tunas Makmur dalam produk olahan nanas, diharapkan  dapat memotivasi kelompok tani lain di Sungai Pakning, bahkan di Kabupaten Bengkalis

Selasa, 20 Maret 2018

CSRRUIISEIPAKNING

Tingkatkan Ekonomi Masyarakat, Pertamina RU II Sei Pakning Ikut Serta Tanggulangi Kebakaran Hutan dan Lahan

BENGKALIS  – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebutkan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap bencana kebakaran hutan dan lahan telah berdampak positif pada penurunan luas lahan yang terbakar di Riau. Jika pada 2015 luas lahan yang terbakar mencapai 185 ribu hektar, maka pada tahun ini hingga September 2017 luas lahan yang terbakar tinggal 6.800 hektar.
MR Karliansyah,   Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLHK, mengatakan kebakaran hutan merupakan musibah luar biasa yang harus ditanggulangi bersama.
“Generasi muda kita menghirup udara yang tidak bagus. Padahal mereka punya hak yang sama.  Untuk itu harus dibuat upaya pencegahan kebakaran hutan yang lebih baik,” ujar Karliansyah saat acara Sarasehan Bersama Mitra Binaan dan Stakeholder di Pertamina Refinery Unit (RU)  II Sei Pakning, Bengkalis, Riau, Rabu (18/10).
Karliansyah mengapresiasi langkah yang dilakukan Pertamina RU II Sei Pakning yang merangkul masyarakat untuk menanggulangi bersama kebakaran hutan sekaligus meningkatkan taraf ekonomi masyarakat.
“Masyarakat pasti akan membantu jika mereka mendapat manfaat yang nyata,” tegas Karliansyah.
Setelah bencana kebakaran lahan dan hutan seluas enam hektar di Sungai (Sei) Pakning tahun 2012 – 2014, Pertamina RU II  Sei Pakning mendorong keterlibatan masyarakat melakukan upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan, agar musibah tidak terulang kembali.

Isu ini menjadi perhatian dunia sejak beberapa tahun belakangan, Indonesia yang diharapkan menjadi produsen karbon dunia, dihadapkan pada permasalahan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang muncul di beberapa wilayah seperti Sumatera, termasuk di wilayah Sei Pakning di Provinsi Riau.
Otto Gerentaka, Pertamina RU II, mengatakan faktor alam dan keterbatasan sarana dan prasarana pemadaman api di wilayah Sei Pakning, mengakibatkan rawannya terjadi kebakaran lahan dan hutan. Sebagai korporasi yang beroperasi di sekitarnya,

Pertamina menilai masyarakat membutuhkan bantuan untuk mengatasi tinggi potensi kebakaran.
Menurut Otto, masyarakat dengan keterbatasan kapasitas tidak bisa berbuat banyak melihat lahan atau hutan di sekitarnya dilanda kebakaran.
“Menyadari pentingnya menjaga kelestarian lingkungan, kami hadir untuk membantu masyarakat sebagai wujud tanggung jawab sosial Pertamina dengan melibatkan seluruh komponen,” kata Otto.
Menurut Otto, sejak 2015 Pertamina RU II Sei Pakning mendorong upaya pencegahan kebakaran lahan dan hutan di wilayah Bukit Batu melalui program Corporate Social Responsibility. Selama dua tahun terakhir, Pertamina melakukan pendampingan kelompok tani melalui pemberdayaan masyarakat dengan mengalihfungsi lahan semak belukar yang merupakan bekas area kebakaran lahan dan hutan untuk ditanami nanas.
Upaya pencegahan kebakaran hutan dengan alihfungsi teresebut semakin maksimal, karena masyarakat juga diberikan ketrampilan pengolahan makanan dari bahan baku Nanas.
“Pertamina RU II melalui implementasi Program CSR yang berkelanjutan, berkomitmen untuk meningkatkan kemandirian masyarakat lokal melalui pemanfaatan potensi setempat. Upaya Mitigasi Karhutla Berbasis Pemberdayaan Masyarakat kami harapkan dapat menjadi solusi dalam pemanfaatan perhutanan sosial sebagai sumber daya ekonomi masyarakat,”jelas Otto.
Kini, masyarakat menjadi lebih termotivasi untuk mengalihfungsi lahan semak menjadi pertanian nanas karena adanya nilai tambah yang didapatkan.
Selain itu, upaya ini juga menjadi insentif tambahan bagi Masyarakat Peduli Api (MPA) Kelurahan Sei Pakning untuk semakin rutin menggelar patroli api.(AT)
CSRRUIISEIPAKNING

Kilau Nanas Hutan Gambut Sei Panking Buah Berkah dari Musibah

Jakarta, BusinessNews Indonesia—General Manager Pertamina RU II Production, Otto Gerentaka, mengatakan sejak Program Pengembangan Kawasan Pertanian Nanas Terintegrasi dilakukan, tahun 2017  terjadi peningkatan lahan pertanian nanas seluas 4,5% dengan potensi pendapatan kelompok mencapai Rp 20 juta per bulan. Itu dari penjualan hasil pertanian dan produk olahan nanas.
Otto menjelaskan dalam keterangan pers (17/10/2017) bahwa program itu berlangsung di Sei Pakning (Kabupaten Bengkalis, Riau) yang sebelumnya dilanda kebakaran seluas 6  hektar.
Sebelumnya, dari lahan tiga hektar dengan tiga orang petani dan 10 orang petani penggarap, hasil panen mencapai 10.000 buah per hektar dengan kualitas grade A-B (85%), dan C (15%). Total pendapatan kelompok dari penjualan mencapai Rp 17  juta per panen.
“Hingga saat ini, upaya budidaya tanaman produktif cukup menjanjikan dan tahun yang akan datang diproyeksikan luasnya menjadi 15 hektar. Pertamina berharap muncul Sentra Pertanian Nanas Gambut yang dapat menjadi ciri khas di wilayah Sungai Pakning,” kata Otto.
Samsul, ketua Kelompok Tani Tunas Makmur yang menjadi mitra binaan Pertamina membenarkan fakta itu. Ia bahkan mengakui bahwa sejak program ini diinisiasi oleh Pertamina, masyarakat menjadi lebih termotivasi untuk mengalihfungsi lahan semak menjadi pertanian nanas karena ada nilai tambah yang didapatkan cukup besar.
Kelompok Tani Tunas Makmur yang dipimpinnya beranggotakan 27  orang. Kelompok laki-laki sehari-hari menjalankan kegiatan pertanian, sementara kelompok perempuan memproduksi produk nanas olahan. Produk unggulan kelompok tani mereka adalah keripik nanas gambut dan manisan nanas.
Di awal alih fungsi lahan tahun 2015, masyarakat termasuk Kelompok Tani Tunas Makmur melakukan kegiatan pengelolaan lahan dengan memanfaatkan lahan yang bersifat kritis menjadi bernilai produktif.
CSRRUIISEIPAKNING

Kilau Nanas Hutan Gambut Sei Panking Buah Berkah dari Musibah



Sei Pakning – Di balik bencana kebakaran lahan dan hutan ada hikmah terselubung bagi mereka yang merasakan duka. Ungkapan ini setidaknya dirasakan masyarakat Sungai (Sei) Pakning yang pernah dilanda musibah kebakaran yang membumihanguskan lahan seluas enam hektar di wilayahnya.
Pada tahun 2012 si “jago merah” tanpa ampun melalap lahan gambut, dan itu terjadi hampir setiap tahun. Masyarakat hampir setiap hari berlari bolak-balik mencari air atau benda yang dapat memadamkan kobaran api tidak jauh dari kediamannya.
Kini, kisah itu tak terjadi lagi. Sejak dua tahun lalu duka itu berakhir. Berkat upaya bahu membahu Pemerintah, masyarakat dan Pertamina RU II Production Sei Panking, musibah itu dapat teratasi dengan hadirnya Program Mitigasi Karlahut (Kebakaran Lahan dan Hutan) Berbasis Masyarakat dan Pengembangan Kawasan Pertanian Nanas Terintegrasi.
Mulai tahun 2015, melalui program tersebut masyarakat didampingi Pemerintah dan Pertamina RU II Production Sei Pakning mendorong upaya pencegahan kebakaran lahan dan hutan di wilayah Bukit Batu melalui alih fungsi lahan.
Bekerjasama dengan LPPM Universitas Sebelas Maret, Pertamina Production Sei Pakning melakukan pendampingan bagi kelompok tani melalui pemberdayaan masyarakat, dengan mengalihfungsi lahan semak belukar yang merupakan bekas area kebakaran lahan, menjadi pertanian nanas gambut dan melakukan diversifikasi produk olahan nanas.
GM Pertamina RU II Production, Otto Gerentaka, mengatakan sejak Program Pengembangan Kawasan Pertanian Nanas Terintegrasi ini dilakukan, tahun 2017 tercatat telah terjadi peningkatahan lahan pertanian nanas seluas 4,5% dengan potensi pendapatan kelompok mencapai Rp 20juta/ bulan dari penjualan hasil pertanian dan produk olahan nanas.
Sebelumnya, dari lahan tiga Hektar dengan tiga orang Petani dan 10 orang Petani Penggarap, hasil panen mencapai 10.000 buah/Hektar dengan kualitas Grade A-B (85%) dan C (15%), dengan total pendapatan kelompok dari pejualan mencapai Rp 17 Juta /panen.
“Hingga saat ini, upaya budidaya tanaman produktif cukup menjanjikan dan tahun yang akan datang diproyeksikan luasnya menjadi 15 hektar. Pertamina berharap muncul Sentra Pertanian Nanas Gambut yang dapat menjadi ciri khas di wilayah Sungai Pakning,”kata Otto.
Samsul, Ketua Kelompok Tani Tunas Makmur yang menjadi mitra binaan Pertamina membenarkan fakta itu. Ia bahkan mengakui bahwa sejak program ini diinisiasi oleh Pertamina, masyarakat menjadi lebih termotivasi untuk mengalihfungsi lahan semak menjadi pertanian nanas karena ada nilai tambah yang didapatkan cukup besar.
Kelompok Tani Tunas Makmur yang dipimpinnya beranggotakan 27 Orang. Kelompok laki-laki sehari-hari menjalankan kegiatan Pertanian, sementara kelompok perempuan memproduksi produk nanas olahan. Produk unggulan kelompok tani mereka adalah Keripik Nanas Gambut dan Manisan Nanas.
Di awal alih fungsi lahan tahun 2015, masyarakat termasuk Kelompok Tani Tunas Makmur melakukan kegiatan pengelolaan lahan dengan memanfaatkan lahan yang bersifat kritis menjadi bernilai produktif. Di mulai dengan pengelolaan lahan perkebunan cabai dan pisang di daerah Batang Duku seluas 2 hektar. Selanjutnya pengelolaan kebun nanas di Desa Kampung Jawa berkisar delapan hektar. “Kami bersyukur bencana yang dulu menyimpan duka, kini menjadi harapan kesejahteraan untuk masa depan kampung Sei Pakning,”ujar Samsul optimis.
CSRRUIISEIPAKNING

Mitra Binaan Pertamina Hadir di Trans Studio Makassar

Makassar - Dalam rang­ka mewujudkan kepe­dulian akan pengem­bangan potensi Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Sulawesi Selatan, Marketing Operation Region (MOR) VII bekerja sama dengan Univer­sitas Hasanuddin dan Trans Studio Mall menghadirkan Pertamina UKM Center yang berlokasi di Trans Studio Mall (TSM)Makassar. Pembukaan Perta­mina UKM Center diresmikan General Manager MOR VII, General Manager Trans Studio Mall Makassar, Perwakilan Rektor UNHAS, Kepala Dinas Pariwisata, Kepala Dinas Penanaman Modal Provinsi Sulawesi Selatan, dan Putri Indonesia – Sulawesi Selatan.
 
Kehadiran Pertamina UKM Center bertujuan untuk mengekspos para pelaku UKM di Sulawesi sehingga dapat langsung berinteraksi dengan para pelanggan, khu­susnya pengunjung Trans Studio Mall Makassar. Perta­mina UKM Center ini juga menjadi salah satu des­tinasi belanja kerajinan lokal bagi para wisatawan yang berkunjung ke Makassar. Galeri UKM Pertamina – UNHAS ini dibuka se­lama lima bulan ke depan hingga Desember 2017, dengan menam­­pilkan 35 mitra binaan Perta­mina dan UNHAS.

Jenis UKM yang akan hadir di Pertamina UKM Center di antaranya Tedong­simpo Toraja, Arenga Cendana, Biovidus 99, Bulan Bintang, Official/call Center UPKB UNHAS, Careppe, Coklat Celebes, digital design, Ehsamiaa Selai, Kaluku.id, Kopi Toraja Lepongan Bulan, La Guna Bee, Manik-manik Annie Weaving Galery, O’cea, dan Potions.

“Pertamina UKM Center meru­pa­kan komitmen kami dalam meningkatkan pem­bangunan masyarakat. Melalui program kemitraan Perta­mina, kami membantu pelaku UKM untuk mendapat ban­tuan modal kerja, pela­tihan, dan kesempatan kepada para UKM untuk menam­pilkan produknya baik dalam skala lokal mau­pun internasional,” pungkas Joko Pitoyo.•MOR VII

Share this post